Sunday, March 8, 2009

DOKTRIN KESELAMATAN

MENGENAL KARYA ROH KUDUS DAN PROSES KESELAMATAN

Tindakan Allah dalam menyelamatkan manusia dikerjakan menurut urutan (ordo) tertentu. Urutan ini terdiri dari satu rangkaian tindakan dan proses.[1] Rangkaiannya dimulai dari panggilan, regenerasi, pembenaran, adopsi, penyucian dan pemuliaan. Semuanya ini berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada satupun yang dapat didefinisikan dengan pengertian yang lainnya. Di dalam tindakan dan anugerah Allah, setiap bagian memiliki makna, fungsi dan maksud tersendiri yang berbeda.

1. PANGGILAN EFEKTIF

Panggilan terjadi pada saat Injil diberitakan, baik melalui pengajaran dikelas, khotbah di mimbar, ataupun melalui interaksi secara pribadi. Suatu panggilan pada dirinya sendiri tidaklah efektif. Dan panggilan semacam ini seringkali disebut sebagai panggilan universal dari Injil[2] atau panggilan umum. Mengenai panggilan universal ini di dalam Matius 22:14 dikatakan: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."

Tetapi di dalam Perjanjian Baru, istilah “panggilan” ketika digunakan khususnya berkenaan dengan keselamatan, hampir selalu diterapkan secara seragam, yaitu bukan menunjuk kepada panggilan umum atau panggilan universal dari Injil, tetapi kepada panggilan yang membawa manusia masuk ke dalam kondisi keselamatan, dan dengan bersifat efektif.

Suatu panggilan akan menjadi efektif karena pekerjaan dari Roh Kudus. Roh Kudus memanggil seseorang melalui Firman Tuhan, dan Roh Kudus memakai Firman tersebut untuk memulai suatu proses keselamatan. Roy Zuck, di dalam bukunya yang membahas mengenai pekerjaan Roh Kudus di dalam pembelajaran mengatakan bahwa Roh Allah secara aktif melibatkan diri-Nya di dalam hati mereka yang belajar melalui tiga cara: menyatakan penghakiman, pengurapan, dan memberi pencerahan.[3] Di dalam Kisah Para Rasul ada diceritakan bagaimana panggilan efektif dialami Lidia. “Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.” (Kis 16:14)

Seseorang yang mendapat panggilan yang efektif suatu saat pasti diselamatkan. Roh Kudus yang berkerja melalui khotbah pemberitaan Firman sehingga membuat khotbah tersebut berkuasa. Dan Roh Kudus memberi pencerahan kepada orang mendengarkan sehingga ia dapat mendengarkan Tuhan berbicara melalui khotbah tersebut.[4]

2. REGENERASI

Regenerasi berhubungan erat dengan panggilan efektif. Regenerasi atau lahir baru adalah tindakan Allah yang menanamkan prinsip kehidupan yang baru di dalam diri seseorang, dan memperbaharui hati seseorang sehingga memiliki kecenderungan untuk hidup kudus.[5] Regenerasi adalah dasar dari semua perubahan di dalam hati dan kehidupan. Ia merupakan perubahan yang menakjubkan, karena merupakan tindakan penciptaan ulang dari Allah sendiri. Melalui regenerasi ini seseorang yang mati di dalam pelanggaran dosa-dosanya, yang pikirannya dipenuhi perlawanan terhadap Allah, dan yang tidak dapat melakukan apa saja yang menyenangkan Allah, kini dapat menjawab panggilan untuk dipersekutukan dengan Kristus. Melalui regenerasi ini seseorang yang hatinya rusak dan pikirannya melawan Allah kini bisa menerima Kristus yang adalah manifestasi tertinggi kemuliaan Allah.

Proses kelahiran baru sepenuhnya murni pekerjaan Allah. Sedikitpun tidak ada andil manusia di dalamnya. Prosesnya betul-betul misterius dan hal inilah yang Yesus bicarakan dalam Yohanes 3:8. Ia berkata: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." Semuanya itu menunjukkan kedaulatan, kemanjuran dan ketidakbisa-diduganya karya Roh Kudus di dalam regenerasi.

3. IMAN DAN PERTOBATAN

Regenerasi tidak dapat dipisahkan dari dampaknya, dan salah satu dampaknya adalah iman. Tanpa regenerasi, maka secara moral dan spiritual mustahil seseorang bisa percaya kepada Kristus. Tetapi ketika seseorang telah diregenerasikan, secara moral dan spiritual mustahil orang itu menolak Kristus.

Regenerasi adalah tindakan Allah, dan hanya oleh Allah saja. Sedangkan iman bukanlah tindakan Allah, tetapi manusialah yang percaya kepada Kristus. Memang karena anugerah Allah seseorang bisa percaya, tatapi iman adalah aktivitas dari pihak manusia dan hanya dari pihak manusia saja. Di dalam iman seseorang menerima dan bersandar hanya kepada Kristus untuk mendapatkan penebusanya.

Ada tiga hal yang perlu dibicarakan tentang natur iman. Iman adalah pengetahuan, kepastian dan kebersandaran (trust).[6]

a. Pengetahuan. Seorang yang beriman mengetahui siapakah Kristus itu, apa yang Ia perbuat, dan apakah Ia mampu melakukannya. Tanpa pengetahuan ini, iman akan merupakan suatu suatu tindakan buta atau bahkan suatu kebodohan. Jadi, haruslah ada pengertian kebenaran berkenaan dengan Kristus.

b. Kepastian. Kepastian yang termasuk dalam iman bukan hanya persetujuan terhadap kebenaran berkenaan dengan Kristus, tetapi juga pengenalan yang tepat berkenaan dengan hubungan antara kebenaran tentang Kristus dengan kelakuan kita sebagai orang berdosa. Keberadaan Kristus sebagai Juruselamat sepenuhnya berkenaan dengan kebutuhan kita yang terdalam dan paling ultimat.

c. Kebersandaran. Iman adalah pengetahuan yang berlanjut kepada kepastian, dan kepastian ini dilanjutkan kepada kebersandaran. Iman tidak bisa berhenti sampai pada komitmen diri kepada Kristus saja, tetapi suatu pengalihan ketergantungan akan keselamatan kita, yaitu dari bergantung kepada diri sendiri beralih kepada kebergantungan pada Kristus. Iman adalah bersandar kepada kebenaran (Faith is trust in truth).[7]

Antara iman dan pertobatan tidak dapat diketahui mana yang lebih dulu. Tidak ada prioritas. Ketekismus Singkat Westminster menjelaskan pertobatan sebagai berikut: “Pertobatan ke dalam hidup adalah anugerah keselamatan, dimana seorang berdosa keluar dari pengertian dosa-dosanya yang sesungguhnya, dan menerima kemurahan Allah di dalam Kristus, yang dengan kesedihan dan kebencian yang sunggung terhadap dosanya, telah berpaling darinya kepada Allah, dalam arti yang sepenuhnya, sambil berusaha keras mengikuti ketaatan yang baru.”

Pertobatan pada hakekatnya meliputi perubahan hati, pikiran dan kehendak. Perubahan ini secara prinsip berkaitan dengan empat hal: perubahan pikiran berkenaan dengan Allah, berkenaan dengan diri sendiri, berkenaan dengan dosa, dan berkenaan dengan kebenaran.

4. PEMBENARAN

Bagaimanakah manusia berdosa bisa benar dihadapan Allah? Kebenaran bahwa “Allahlah yang membenarkan” perlu digarisbawahi. Manusia tidak mampu membenarkan dirinya sendiri. Pembenaran dapat diartikan sebagai tindakan hukum dari Allah yang mendeklarasikan seorang berdosa sebagai orang benar yang didasarkan pada kebenaran Kristus yang sempurna.[8]

5. ADOPSI

Melalui adopsi orang tebusan diangkat menjadi anak-anak Tuhan Allah yang Mahakuasa.[9] Mereka diperkenalkan sebagai keluarga Allah dan mendapat bagian di dalamnya. Ayat yang menyatakan secara tegas sifat khusus dari adopsi ini adalah Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Sebagaimana halnya dengan pembenaran, kebenaran tentang adopsi pantas untuk disampaikan kepada orang yang sudah percaya maupun yang belum percaya. Kepada mereka yang telah percaya, kebenaran ini mempertegas kembali status dan relasi mereka yang baru dengan Tuhan. Dengan status sebagain anak-anak Allah ini mereka mendapatkan rasa aman dan damai bersama Allah. Dan kepada mereka yang belum percaya, kebenaran ini memberikan jaminan kepada mereka bahwa mereka akan diberi kuasa menjadi anak-anak Allah jika mereka menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya.

6. PENYUCIAN

Penyucian adalah kelanjutan dari pekerjaan Roh Kudus yang menyucikan hidup orang berdosa, memperbaharui seluruh hidupnya sebagai gambar dan rupa Allah, dan yang memampukannya menghasilkan perbuatan baik.[10] Meskipun penyucian ini adalah suatu pekerjaan supranatural, namun orang percaya harus bekerja sama dengan Roh Kudus dan berperan aktif dalam menyucikan dirinya dari semua pencemaran jasmani dan rohani (2 Kor 7:1).

Meskipun penyucian ini terjadi secara menyeluruh di dalam diri manusia namun hal ini tidak membuat hidupnya menjadi sempurna. Ia masih memiliki dosa selama hidupnya. Masih adanya sisa-sisa kebejadan pada setiap bagian dirinya. Penyucian ini akan menyebabkan terjadinya tertentangan yang terus menerus dan tidak terselesaikan, antara daging melawan Roh, dan Roh melawan daging.

7. KETEKUANAN ORANG KUDUS

Sekali diselamatkan, selamanya diselamatkan. Ini merupakan penjelasan yang paling sederhana dan singkat mengenai ketekunan orang kudus.[11] Ketekunan orang kudus adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam diri orang percaya, yang oleh anugerah Allah bekerja di dalam hati orang percaya sejak awal dan terus menerus bekerja sampai proses keselamatan selesai dengan sempurna.[12] Dengan demikian, seseorang yang telah mendapatkan anugerah keselamatan tidak akan pernah kehilangan keselamatannya. Sebab Roh Kuduslah yang bekerja sejak awalnya, dan terus menerus bekerja memelihara hatinya hingga keselamatannya sempurna.

Pengajaran mengenai kenyataan “sekali diselamatkan, tetap diselamatkan” merupakan salah satu pengajaran Alkitab yang paling agung. Pengajaran ini memberi sukacita karena kita mengetahui bahwa kita diselamatkan untuk selama-lamanya.

Namun doktrin ketekunan orang kudus jangan disalah mengeri bahwa setiap orang yang mengaku beriman di dalam Kristus dan menerima-Nya sebagai orang percaya di dalam persekutuan orang kudus, dijamin di dalam kekekalan mendapatkan jaminan keselamatan yang kekal. Sebab Alkitab sendiri telah memberikan peringatan akan bahaya kemurtadan. “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” (Ibrani 6:4-6) Mereka dapat dipersamakan seperti perumpamaan benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, yaitu orang yang menerima firman dengan sukacita dan masih terus bersukacita untuk waktu tertentu. Namun sesungguhnya imannya tidak pernah berakar di dalam Kristus. Imannya hanya sampai pada taraf persetujuan pemikiran. Ia setuju pada fakta bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, namun imannya tidak sampai bersandar sepenuhnya kepada Kristus.

8. KESATUAN DENGAN KRISTUS

Kesatuan denga Kristus merupakan topik yang melingkupi semuanya. Ia mencakup lingkup keselamatan yang luas dari sejak bersumber dalam pemilihan kekal Allah, sampai buah finalnya di dalam pemuliaan orang-orang pilihan. Ia bukan sekedar satu fase penerapan penebusan, tetapi ia mendasari setiap aspek penebusan, baik dari penggenapannya sampai pada penerapannya. Kesatuan dengan Kristus mengikat seluruhnya, dan menjamin setiap orang yang kepadanya Kristus telah membayar penebusan secara efektif.[13]

Kesatuan dengan Kristus bersifat spiritual dan mistik. Bersifat spiritual artinya adalah pengikat dari kesatuan itu adalah Roh Kudus sendiri (1 Kor 12:13). Kesatuan ini merupakan kesatuan dari karakter spiritual yang berkaitan erat denga natur dan pekerjaan Roh Kudus, sehingga benar-benar melampaui kekuatan manusia menganalisa bagaimana Kristus tinggal di dalam umat-Nya dan umat-Nya tinggal di dalam Dia.[14]

Kesatuan dengan Kristus bersifat mistik artinya kesatuan ini sebagai suatu misteri yang tidak dapat dilihat dengan mata dan tidak dapat didengar oleh telinga demi untuk masuk ke dalam hati manusia, tetapi yang kemudian dinyatakan oleh Allah kepada kita melalui Roh-Nya dan melalui penyataan, dan iman dapat dikenal dan dimengerti oleh manusia.[15]

9. PEMULIAAN

Pemuliaan adalah fase terakhir dari penerapan penebusan. Fase ini menyempurnakan seluruh proses yang dimulai dengan panggilan efektif dan merupakan akhir dari seluruh proses penebusan. Pemuliaan berarti tercapainya tujuan akhir dari setiap umat pilihan Allah yang telah dipilih seturut maksud kekal Bapa, dan melingkupi penggenapan penebusan yang dijamin dan kerjakan oleh karya pengorbanan Kristus.

Pemuliaan merupakan puncak dan kesempurnaan penebusan dari keseluruhan pribadi, yaitu ketika integritas tubuh dan roh umat Allah telah diubahkan seturut gambar dari Penebus yang telah bangkit, yang telah ditinggikan dan dipermuliakan. Hal itu terjadi ketika setiap tubuh kehinaan mereka diubah seperti tubuh kemuliaan Kristus.[16]?[vb]



[1] John Murray, Penggenapan dan Penerapan Penebusan (Jakarta: Momentum, 1999), hal. 96.

[2] Ibid, hal. 107.

[3] Roy B. Zuck, Spiritual Power in Your Teaching (Chicago: Moody, 1972), p. 45.

[4] Louis Berkhof, Summary of Christian Doctrine (Grand Rapids, Michigan: Wm B. Eerdmans Publisher Company, 1938), hal. 126.

[5] Ibid, hal. 127.

[6] John Murray, hal. 136.

[7] Bruce Milne, Know the Truth (England: Inter-Varsity Press, 1982), hal. 187.

[8] Louis Berkhof, Summary of Christian Doctrine, hal. 138.

[9] John Murray, hal. 165.

[10] Louis Berkhof, Summary of Christian Doctrine, hal. 143.

[11] Edwin Palmer, Lima Pokok Calvinisme (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1996), hal. 107.

[12] Louis Berkhof, Summary of Christian Doctrine, hal. 145.

[13] John Murray, hal. 208.

[14] Ibid, hal. 210.

[15] Ibid.

[16] Ibid, hal. 220.

PNEUMATOLOGY (DOKTRIN ROH KUDUS)

I. MENGENAL ALLAH ROH KUDUS

A. Roh Kudus adalah salah satu Pribadi dari Allah Tritunggal (Mat 28:19)
Roh Kudus adalah Roh-Nya Allah, Roh yang keluar dari Allah, Roh yang dimiliki Allah, Roh kepunyaan Allah sendiri. Arti dari Roh Allah adalah Roh yang keluar atau yang berasal dari Allah.

B. Roh Kudus adalah Roh Kristus (Rom 8:9).
Sebelum kenaikan-Nya ke surga Yesus berkata, “...Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:20). Bandingkanlah pernyataan tersebut dengan pernyataan sebelum hari kematian-Nya: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran” (Yoh 14:16-17). Paulus di dalam Rom 8:9 berkata, “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.”

Catatan:
Dengan mengakui Roh Kudus sebagai Roh Allah atau Roh Kristus berarti kita menolak pandangan yang mengatakan bahwa Roh Kudus adalah sesuatu yang tidak berpribadi, yakni hanya semacam “kuasa” atau “energi” dari Allah (semacam tenaga dalam).

C. Roh Kudus adalah Roh kekekalan (Ibrani 9:14)
Sebelum segala sesuatu diciptakan Ia telah ada (Kej 1:2). Dan Ia juga akan tetap ada sampai selama-lamanya. Berbahagialah orang yang bersandar pada pimpinan dan pertolongan Roh Kudus yang kekal, sebab ia memiliki Juruselamat yang abadi. (Bandingkan dengan manusia yang bersandar pada orang lain atau pada materi yang dapat binasa, ataupun pada kuasa kegelapan akan dibinasakan pada akhir jaman).

D. Roh Kudus adalah Roh Kebajikan (Gal 5:22)
Ia adalah Roh yang suci dan baik secara moralitas. Dari dalam diri-Nya keluar buah-buah yang baik. Ia adalah Roh yang memberikan kita kemampuan untuk menjadi manusia yang bermoral baik. Orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus akan menunjukkan sifat-sifat yang baik. (Bandingkan dengan orang yang dikuasai oleh roh jahat yakni setan, yang kecenderungannya adalah menghasilkan buah-buah kejahatan)

E. Roh Kudus adalah Roh Kemuliaan
Hal ini berkaitan dengan penganiayaan yang dialami oleh Gereja (anak-anak Tuhan). Pada waktu umat Allah dianiaya dan dipermalukan, Tuhan mempermuliakan mereka yang sedang dipermalukan. Ketika Gereja dianiaya, orang pengikut Kristus ditindas dan disiksa, saat itulah Roh Kudus menyatakan aspek kemuliaan Allah bagi mereka yang dipermalukan. (Sehubungan dengan hal penganiayaan Roh Kudus dapat juga disebut sebagai Roh Penolong)

F. Roh Kudus adalah Roh Penolong (Mat 10:18-20)
Roh Kudus menolong umat Allah yang sedang mengalamai penganiayaan. (Lihat penjelasan Roh Kudus adalah Roh Kemuliaan)

G. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran (Yohanes 16:13)
Roh Kudus menuntun seseorang untuk kembali kepada kebenaran Tuhan. Orang berdosa memiliki kecenderungan hati untuk menolak pimpinan Firman Tuhan. Tetapi Roh Kudus berkuasa mengubah hatinya sehingga mencintai kebenaran Firman Tuhan.

H. Roh Kudus adalah Roh yang mewahyukan (Ef 1:17-18)
Roh Kudus memberikan wahyu-Nya kepada kita dangan cara memberikan inspirasi kepada para penulis Alkitab. Tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus ini tidak mungkin salah, dan memiliki otoritas Ilahi.

I. Roh Kudus adalah Roh yang membangkitkan kesadaran (Kis 16:14)
Roh Kudus memberikan iluminasi (pencerahan) dan hikmat kepada kita. Mata rohani kita yang buta dicelikkan-Nya sehingga kita sadar dan dapat melihat kebenaran Allah.

II. HARI PENTAKOSTA

A. Arti Kata
  • • Pentakosa (Yunani: pentekoste) = Lima Puluh
  • • Hari Pentakosta = Hari kelima puluh
B. Hari Pentakosta Perjanjian Lama
  • • Hari raya pengumpulan hasil panen
  • • Hari peringatan pemberian Hukum Taurat
  • • Hari jadi bangsa Israel
C. Hari Pentakosta Perjanjian Baru
  1. Peristiwa yang mengiringi Pentakosta Perjanjian Baru
  • Bunyi suara angin
  • Lidah api hinggap di atas kepala para murid
  • Para murid berbahasa Roh
Ketiga hal tersebut muncul sebagai konfirmasi yang menandakan bahwa Roh Kudus yang dijanji-janjikan telah tiba.

2. Hasil dari Pentakosta Perjanjian Baru
  • Semua bangsa dan bahasa dapat mendengar Injil
  • Semua bangsa dan bahasa dapat bertobat
  • Semua bangsa dan bahasa menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Rajanya.
3. Makna hari Pentakosta Perjanjian Baru
  • Hari pengumpulan umat Allah
  • Hari peringatan turunnya Roh Kudus
  • Hari jadi Gereja
Hari Pentakosta adalah hari jadinya gereja, hari di mana gereja terwujud di dalam sejarah. Suatu rencana Allah yang sudah ditunggu-tunggu selama beribu-ribu tahun akhirnya tergenapi pada hari Pentakosta.


III. PENERIMAAN ROH KUDUS YANG SALAH

A. Peniupan Roh Kudus oleh manusia
Roh Kudus datang dari Allah Bapa dan Allah Anak. Manusia tidak boleh berperan sebagai Allah. “Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.” (Yoh 20:22). Peristiwa ini adalah satu-satunya, dimana Allah Anak, Pribadi Allah yang kedua, melakukan tindakan tersebut. Hanya Allah yang berhak meniupkan Roh Kudus. Selain itu tidak ada orang lain, baik nabi, rasul, bapa gereja atau pendeta yang boleh memberikan hembusan dan menyuruh orang menerima Roh Kudus.

B. Berbahasa Roh
Prinsip Bahasa Roh
  1. Sebagai suatu bahasa dan bukan sekedar sebuah ricauan atau mantra
  2. Berfungsi sebagai sarana pemberitaan Firman.
  3. Berita yang disampaikan tidak bertentangan dengan Firman Tuhan (1 Yoh 4:1)
  4. Bertujuan untuk membangun. “...karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.” (1 Kor 13:26)
  5. Di dalam penyampaiannya memenuhi 3 syarat dalam 1 Kor 14:27-28:
    • Jumlah orang yang berkata-kata paling banyak 3 orang. “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang” (1 Kor 14:27a)
    • Berbicara bergiliran. “seorang demi seorang” (1 Kor 14:27b)
    • Harus ada orang yang menerjemahkan. “harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (1 Kor 14:27c-28)

  6. Roh Kudus tidak merasuki orang yang berbahasa Roh. Maka dari itu seseorang yang diberi karunia bahasa Roh dapat menahan diri, berdiam diri dan tidak menggunakannya. Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (1 Kor 14:32)
  7. Menjaga ketertiban. “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (1Kor 14:23) “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” (1 Kor 13:33). Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur. (1 Kor 13:40).
  8. Bahasa Roh adalah karunia yang tidak diberikan kepada semua orang, melainkan hanya diberikan kepada orang-orang tertentu saja. (1Kor 12:10)

IV. PENERIMAAN ROH KUDUS YANG BENAR
  1. Berkaitan dengan Pertobatan
  2. Berkaitan dengan Pengakuan terhadap Kristus
  3. Berkaitan dengan Pemberitaan Injil
  4. Berkaitan dengan permohonan Kepada Bapa

V. CIRI CIRI ORANG YAND DIPENUHI OLEH ROH KUDUS
  1. Taat kepada Roh
  2. Hidup Kudus
  3. Menjunjung tinggi Firman
  4. Memberitakan Injil
  5. Berani menjalankan kehendak Allah
  6. Menghasilkan buah Roh

CHRISTOLOGY (DOKTRIN TENTANG KRISTUS)


Kristus adalah Pribadi kedua dari tiga pribadi Allah Tritunggal. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia

I. PENAMAAN

Kata “Yesus” dan “Kristus” sering dipakai secara bergantian ataupun secara bersamaan. keduanya mengacu pada SATU Pribadi yang sama. Namun masing-masing nama itu memiliki penekanan pada hal yang berbeda.

A. YESUS: adalah bentuk bahasa Yunani dari kata bahasa Ibrani Jehoshua, Joshua, atau Jeshua. Nama tersebut adalah nama pribadi-Nya yang artinya adalah Sang Juruselamat.

B. KRISTUS: adalah gelar jabatan yang disandang-Nya, yang artinya adalah Yang Diurapi. Nama “Kristus” merupakan bentuk yang setara dengan nama “Mesias” yang di pakai dalam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Lama ada tiga jabatan yang mendapatkan pengurapan (pemberkatan khusus) dari Allah, yaitu Raja, Imam dan Nabi. Yesus menjabat sebagai ketiga-tiganya.

  • Sebagai Raja, Ia adalah Raja atas seluruh alam semesta, Raja yang menguasalai seluruh umat manusia, Raja atas segala Raja.
  • Sebagai Imam, Ia menjalankan tugas-Nya yang mewakili umat manusia di hadapan Allah. Ia juga yang memberikan korban kepada Allah, yakni tubuh-Nya sendiri. Dan sebagai Imam, Ia juga berdoa syafaat kepada Bapa-Nya untuk seluruh orang yang percaya kepada-Nya.
  • Sebagai Nabi, Ia yang menyampaikan Kebenaran Allah dan penghakiman kepada manusia.

II. PRA-EKSISTANSI KRISTUS

Pra = sebelum; eksistansi = Keberadaan. Pra-eksistansi Kristus berarti Kristus sebelum keberadaan-Nya (kelahiran-Nya) di dunia. Kristus telah ada jauh sebelum segala sesuatu diciptakan. (baca Yoh 1:1-3, Yoh 17:5). Kepada orang Yahudi yang menentang-Nya, Ia berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh 8:58).


III. KRISTUS MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA

Kristus adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu. (Baca Yoh 1:3, Kolose 1:16). Karena Kristus adalah Pencipta segala sesuatu maka sudah sepantasnyalah semua manusia menyembah-Nya, dan mempertanggung-jawabkan seluruh hidup hanya kepada-Nya.


IV. INKARNASI KRISTUS (KRISTUS ADALAH ALLAH YANG MENJELMA MENJADI MANUSIA)

Kristus yang adalah Allah, di dalam inkarnasinya Ia menjadi manusia. Ia adalah Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna.

A. Dua natur Kristus:
  • Bukti kemanusiaan-Nya: Ia memiliki tubuh yang sama dengan tubuh manusia lainnya. Ia mengalami keterbatasan fisik (letih, lapar, haus), keterbatasan emosi (cemas). Dalam kasus tertentu Ia memiliki keterbatasan pengetahuan, seperti yang dicatat di dalam Matius 24:36 “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."
  • Bukti keilahian-Nya: Ia telah ada jauh sebelum segala sesuatu diciptakan, kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, kelahiran-Nya yang ajaib (lahir dari seorang perawan), segala mujizat-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke surga, ia mengetahui isi hati manusia.
Catatan:
  • Ajaran Saksi Yehova sering memakai ayat-ayat yang menyatakan kemanusiaan Yesus untuk menyangkali sifat keilahian-Nya.

B. Pentingnya Allah menjelma menjadi manusia adalah:
  • Dengan memiliki tubuh manusia maka Ia memenuhi syarat menjadi perantara antara Allah dengan manusia. Sebagai prantara, Kristus berperan sebagai pendamai antara dua pihah yang berseteru, yaitu antara Allah yang suci dengan manusia yang berdosa.
  • Dengan memiliki tubuh manusia maka Ia dapat menjadi korban pengganti bagi manusia yang berdosa. Karena manusia telah berdosa, maka hukuman dosa haruslah ditanggung oleh manusia juga. Pembayaran upah dosa mencakup penderitaan tubuh dan jiwa yang hanya mungkin ditanggung oleh manusia.

V. KEMATIAN KRISTUS

Yesus Kristus disalibkan bukan karena ketidak berdayaannya menghadapi orang yang menangkapnya. Ia mati disalibkan adalah atas dasar kerelaan dan inisiatif-Nya menyerahkan diri. Sebab Ia sendiri tahu bahwa tujuan kedatangan Kristus ke dunia adalah untuk mati di kayu salib. Dan tujuan kematian-Nya adalah untuk menebus seluruh dosa manusia yang percaya kepada-Nya.

A. Pengertian Penebusan.
Kata penebusan adalah suatu kosa kata yang umum dipakai di pasar budak pada jaman Perjanjian Baru. Di dalam kitab Perjanjian Baru kata ini berhubungan dengan perbudakan manusia kepada dosa dan Iblis. Allah dalam anugerah-Nya menebus manusia dari keadaannya yang tak berdaya.

B. Tujuan Penebusan

1. Memenuhi tuntutan keadilan Allah
Semua manusia telah berdosa (Roma 3:23). Dan upah dosa adalah maut (Rom 6:23). Sifat kesucian dan keadilan Allah mengharuskan supaya manusia dihukum karena dosa-dosanya. Namun atas anugerah-Nya Ia berkenan menyatakan kasih-Nya kepada manusia dengan cara menanggung dosa manusia. Maut yang seharusnya ditanggung oleh manusia akhirnya ditanggung oleh-Nya. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran (1Pet 2:24). Ia yang tidak berdosa dianggap berdosa karena menanggung dosa manusia yang percaya kepada-Nya.

2. Membebaskan manusia dari hukuman dosa.
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Rom 8:1-2)

C. Kehendak Allah
Penyebab yang menggerakkan penebusan adalah Kehendak Allah untuk menyelamatkan orang berdosa dengan suatu korban penebusan yang menggantikan manusia. Kelahiran Kristus ke dunia adalah buah dari kebaikan dan kemurahan Allah (Yoh 3:16).

D. Jangkauan Penebusan
  1. Secara individual, Yesus mati menebus seluruh dosa yang ada pada diri seseorang. Di atas kayu salib Ia berkata, “Tetelestai” (sudah selesai), yang pengertiannya adalah: Ia telah membayar lunas seluruh hutang kita. Ia telah menanggung seluruh dosa orang yang percaya atau yang akan percaya kepada-Nya. Manusia yang telah percaya kepada-Nya tidak akan mendapatkan hukuman maut (hukuman kekal), melainkan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16; 11:25-26).
  2. Secara kolektif, Yesus Kristus hanya menebus manusia yang percaya kepada-Nya.


VI. KEBANGKITAN KRISTUS

Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu (1Kor 15:14)

A. BUKTI KEBANGKITAN KRISTUS:
  1. Kubur kosong

  2. Kebangkitannya disaksikan oleh banyak orang. Selama 40 hari sejak kebangkitan sampai pada kenaikkan-Nya ke surga Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepada beberapa orang (Kis 1:3). Orang-orang tersebut antara lain:


    • Kepada dua orang yang dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35)

    • Murid-murid-Nya (tidak termasuk Thomas) di dalam sebuah ruangan tertutup di Yerusalem (Yoh 20:19-20)

    • Murid-murid-Nya (termasuk Thomas) di tempat yang sama (Yoh 20:26-28)

    • Tujuh orang murid-Nya di pantai danau Tiberias (Yoh 21:1-2)

    • Kepada lebih dari lima ratus orang sekaligus (1 Kor 15:6), yakni pada saat kenaikan-Nya ke surga.

    • Maria Magdalena (Yoh 20:11-18)


  3. Para murid diubahkan dan menjadi berani dan giat memberitakan Injil.



B. MAKNA KEBANGKITAN KRISTUS:
  1. Kebangkitan Kristus menyatakan kemenangan-Nya menghadapi kuasa maut (kematian). Kematian adalah musuh manusia yang terbesar. Namun musuh yang terbesar ini terlah ditaklukkan oleh Tuhan Yesus. Dengan demikian kebangkitan Kristus memberikan perngharapan kepada orang yang percaya kepada-Nya, sebab Ia berkuasa membangkitkan umat-Nya. Tuhan Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (Yoh 11:25-26).
  2. Kematian seharusnya tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Sebab selain Kristus menyertai kita di dalam kehidupan ini, ia juga menyertai kita di dalam kematian. Dan pada akhirnya Ia juga yang membangkitkan kita dari kematian. Seandainya Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah juga kepercayaan kita (1Kor 15:14).
  3. Karena kita bersekutu dengan Kristus yang telah bangkit maka segala jerih payah kita melayani-Nya tidak sia-sia (1 Kor 15:58).

VII. KENAIKAN KRISTUS KE SURGA

Peristiwa kenaikan Kristus ke Surga terjadi pada hari yang ke-40 setelah kebangkitan-Nya.

A. Bukti kenaikan Kristus
Peristiwa ini disaksikan oleh lebih dari 500 orang di bukit Zaitun (1 Kor 15:6).

B. Pentingnya Kenaikan Kristus adalah:
  1. Kenaikan Kristus ke surga menjadi proklamasi pemerintahan Kristus. Ia tidak hanya menjadi penguasa atas sekelompok orang (murid-murid-Nya), tetapi Ia juga berkuasa atas seluruh alam semesta. “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Mat 28:18)

  2. Kristus naik ke surga supaya Roh Kudus turun ke dunia. Roh kudus juga disebut sebagai Roh Kristus (Rom 8:9). Di dalam wujud Roh maka kehadirannya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Melalui kehadiran-Nya dalam wujud Roh, maka Ia dapat menyertai seluruh umat-Nya kapan saja dan di mana saja. Setiap orang dapat berkomunikasi langsung kepada-Nya di dalam doa setiap saat dan di segala tempat.

VIII. KEDATANGAN KRISTUS YANG KEDUA KALI

Kedatang Kristus yang ke dua kali terjadi pada akhir jaman. Peristiwa ini disebut sebagai hari kiamat. Pada kedatangan-Nya yang ke dua ini Ia datang sebagai Hakim dan Raja. Sebagai Hakim, Ia mengadili setiap manusia. Ia menghukum orang-orang yang berdosa. Dan Ia menyelamatkan orang yang percaya kepada-Nya. Sebagai Raja, Ia memimpin, mengembalakan dan menyelamatkan umat-Nya.

Firman Tuhan telah memperingatkan bahwa kedatang-Nya kedua kali seperti kedatangan seorang pencuri. Artinya, tidak ada seorangpun yang tahu waktu kedatangan-Nya. Kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba, seperti kilat yang datang tanpa di sangka-sangka. “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap”. (2Pet 3:10) “Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.” (Wahyu 3:3)

Pada saat kedatangan-Nya ke ke dua kali ini akan terjadi kegentaran besar pada diri orang-orang berdosa karena takut dan tidak tahan menghadapi penghakiman dan murka Allah. “Mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu." (Wahyu 6:16)

Dan dipihak lain, terjadi suka cita besar pada diri setiap orang yang percaya kepada-Nya, karena hari penyelamatannya telah tiba; segala penderitaan telah berakhir, dan hidup penuh damai sejahtera dengan Allah selama-lamanya. “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4). AMIN [VB]

DOKTRIN ALLAH

I. ALLAH TRITUNGGAL

A. Pernyataan Doktrin
Allah yang sejati adalah Allah Tritunggal. Pengertian dari Allah Tritunggal adalah” “Allah memiliki 3 pribadi (oknum) 1 esensi (substansi)”. Di bawah ini adalah penjelasan mengenai Allah Tritunggal:

  1. Hanya ada satu Allah (Ul 6:4; 1Kor 8:4,6; Yer 10:10)
  2. Dalam ke-Allahan itu ada tiga Pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiganya Allah yang Esa, benar, dan kekal, sama dalam hal Zat-Nya, setara dalam kuasa dan kemuliaan-Nya. (1Yo 5:7; Mat 3:16-17; 28:19; 2Kor 13:13; Yoh 10:30)
  3. Masing-masing pribadi tersebut berbeda satu dengan yang lain (Mat 3:16-17).

B. Doktrin yang sulit untuk dipahami
Doktrin tentang Allah Tritunggal merupakan salah satu doktrin yang unik dan sulit dimengerti. Sebab dasar konsep keberadaan Allah yang tunggal sekaligus jamak adalah suatu hal yang melampaui kemampuan pikiran kita.

  • Ketunggalan (keesaan) keberadaan-Nya berarti hanya ada satu Allah.
  • Kejamakan-Nya berarti ada tiga pribadi yang berbeda yang semuanya adalah Allah.

Sekalipun doktrin ini sulit diterima dengan akal manusia namun kita tetap mempercayainya karena Alkitab tidak memberikan pandangan alternatif yang lain. Dan adalah suatu hal yang wajar bila doktrin Allah Tritunggal sulit dipahami oleh akal manusia. Sebab Allah yang sejati adalah Allah yang jauh lebih besar dari pada akal manusia. Sebaliknya, Allah yang terlalu gampang dipahami adalah allah hasil ciptaan (karangan) pikiran manusia yang terbatas.

C. Doktrin Allah NON-Tritunggal
Karena doktrin Allah Tritunggal sulit dipahami, maka banyak orang yang menolaknya dan mencari alternatif lain yang lebih mudah untuk dipahami. Namun tanpa disadari pilihan lainnya justru memiliki sejumlah masalah yang sangat serius. Di bawah ini adalah beberapa kepercayaan yang bertentangan dengan kepercayaan kepada Allah Tritunggal.

1. Unitarianisme adalah suatu bentuk monotheisme yang berbeda dengan monotheisme Allah Tritunggal. Unitarian tidak mempercayai akan adanya tiga pribadi Allah seperti pada doktrin Allah Tritunggal. Unitarian percaya bahwa Allah hanya memiliki satu pribadi. Kelemahan (kekurangan) dari unitarianisme adalah pandangan ini kehilangan dua sifat Allah yang penting, yaitu:

  • Self dependent (bergantung pada dirinya sendiri)
  • Self suficient (cukup pada dirinya sendiri)

Untuk menyatakan sifat kasihnya, Allah unitarian tidak dapat bergantung pada dirinya sendiri ataupun cukup pada dirinya sendiri. Sebagai allah yang kesepian, allah unitarian membutuhkan keberadaan objek lain untuk dikasihinya. Untuk menyatakan kasihnya ia harus menciptakan suatu makhluk. Kasihnya sangat bergantung pada keberadaan ciptaannya.
Ketritunggalan dalam Allah merupakan dasar pokok penegasan bahwa Allah itu kasih adanya. Allah Tritunggal bukanlah Allah yang kesepian. Ia tidak memerlukan ciptaan sebagai objek kasih-Nya. Sebagai Tritunggal, Allah sudah puas dengan diri-Nya (self-suficient) dan tidak perlu menciptakan ataupun menyelamatkan suatu objek lain yang diluar diri-Nya. Karena Allah Tritunggal memiliki tiga Pribadi maka Ia dapat saling mengasihi satu sama lain. Dengan demikian, penciptaan dan penyelamatan merupakan tindakan kemurahan hati sepenuhnya, ungkapan Allah sebagai kasih yang bebas dan abadi.

2. Politheisme adalah suatu kepercayaan pada banyak allah. Politheisme kehilangan tiga sifat Allah yang penting:

  • Maha Kuasa
  • Maha Ada
  • Maha Tahu

Hal ini disebabkan karena kekuasaan, keberadaan dan pengetahuan allah politheisme telah dibatasi oleh bagian/bidang kekhususannya masing-masing. Contoh:
  • Allah penguasa langit ada dilangit, berkuasa dilangit, dan mengetahui persoalan yang ada di langit.
  • Allah penguasa langit tidak berkuasa di bumi.
  • Allah penguasa langit tidak berada di bumi.
  • Allah penguasa langit tidak tahu persoalan bumi.

3. Atheisme tidak percaya akan adanya Allah. Atheisme mengalami kesulitan dalam memberi penjelasan mengenai:

  • asal mula alam semesta
  • makna dan tujuan hidup

Karena orang Atheis tidak percaya akan adanya Allah, maka orang atheis menyakini bahwa tidak ada yang menciptakan alam ini. Alam datang dari alam sendiri, melalui proses evolusi yang panjang. Semuanya terjadi secara kebetulan, dan tidak ada sesuatu yang merencanakannya. Karena munculnya secara kebetulan, maka alam semesta maupun hidup ini tidak memiliki tujuan sama sekali.”


II. SIFAT ALLAH

Mengapakah kita perlu mempelajari sifat-sifat Allah? Kita perlu mempelajari sifat sifat Allah karena:

  1. Sebagai ciptaan Allah, kita harus mengenal Pencipta kita.
  2. Pengenalan seseorang akan Allah akan mempengaruhi sikapnya terhadap Allah. Pengenalan yang salah terhadap Allah akan menimbulkan sikap yang salah terhadap Allah.

Di bawah ini adalah beberapa sifat Allah yang harus diketahui:

A. MAHA KUASA (Omni Potent)
Allah Maha kuasa berarti kekuasaan-Nya tidak terbatas. Allah memiliki semua kuasa. "Satu kali Allah berfirman, dua hal yang kudengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya" (Maz 62:12). Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ia sanggup (mampu) melakukan apa saja yang dikehendakinya. Segala kehendak-Nya pasti terlaksana. Segala rencana-Nya tidak mungkin gagal. Tidak ada di alam semesta yang mampu menggagalkan atau mengacaukan rencana-Nya.

Kemahakuasaan Allah merupakan ancaman bagi orang jahat dan sekaligus sebagai penghiburan bagi orang percaya. Setiap orang yang berbuat jahat suatu saat nanti harus mempertanggujawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah yang Maha Kuasa. Dan setiap orang yang percaya kepada Allah dipelihara dan dijagai-Nya.

Kekuasaan Allah dinyatakan dalam karya-Nya, yaitu:
  • karya penciptaan
  • karya pemeliharaan
  • karya penyelamatan

B. MAHA ADA/HADIR (Omni Present)
Allah adalah Roh yang tidak terbatas, yang dapat Mahahadir. Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Keberadaan-Nya melampaui ruang dan waktu. Allah berada di segala tempat dalam waktu yang sama. Ia secara utuh berada dimanapun dalam waktu yang sama. "Dia tidak jauh dari kita masing-masing sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak dan kita ada" (Kis 17:27-28). Karena Allah Mahaada maka kita dapat datang beribadah kepada Allah kapan saja dan di mana saja. Kemahahadiran Allah merupakan penghiburan bagi orang percaya, dan sesuatu yang menakutkan bagi orang yang tidak percaya. Di manapun dan sampai kapanpun manusia tidak dapat lari dari hadapan-Nya.

C. MAHA TAHU (Omni Science)
Maha tahu berarti “memiliki semua pengetahuan.” Allah sebagai keberadaan yang tidak terbatas mampu untuk menyadari segala sesuatu, mengerti segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. Allah tidak perlu belajar sesuatu untuk atau mendapat pengetahuan yang baru. Masa yang akan datang ataupun masa yang telah berlalu sepenuhnya diketahui oleh Allah. "Sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya semua telah Engkau ketahui, ya Tuhan" (Maz 139:4).

Allah tidak pernah dikejutkan oleh apapun juga. Allah tidak pernah dibingungkan dengan persoalan-persoalan yang membingungkan kita. Pengetahuan Allah melampaui pemikiran manusia, sehingga memungkinkan Dia untuk dapat menyelesaikan misteri yang masih tersembunyi bagi kita.

Allah mengetahui isi hati dan pikiran setiap manusia. Ia tahu segala kekhuatiran serta kebutuhan kita. Karena Allah Mahatahu, maka ia juga tahu segala dosa kita. Tidak seorangpun dapat menyembunyikan dosanya dari hadapan Allah.

D. KUDUS
Kata kudus dalam Alkitab memiliki dua arti:
  1. Keterpisahan atau keberbedaan. Allah maha kudus berarti Allah berbeda secara mendalam dengan semua ciptaan-Nya yang lain. Kemuliaan-Nya melampaui segala sesuatu sehingga Ia patut mendapat pujian dan penyembahan.

  2. Kemurnian dan kebenaran tindakan Allah. Ia betul-betul murni dan sempurna, tanpa dosa atau kejahatan. Allah melakukan apa yang benar. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Tidak ada kejahatan di dalam kebaikan-Nya. Allah yang kudus menuntut umatnya hidup kudus, yaitu merefleksikan kebenaran Allah dan kemurnian-Nya.

E. BAIK
Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yakobus 1:17)

Allah adalah kebaikan yang sempurna. Kesempurnaan kebaikan Allah bagaikan kesempurnaan terangnya matahari. Sinar matahari berasal dari dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak memiliki bayang-bayang gelap (sisi gelap). Sedangkan bumi dan bulan tidak memiliki sinar pada dirinya sendiri. Bumi dan bulan mendapatkan cahaya dari matahari. Salah satu sisi bumi dan bulan yang mengarah kepada matahari akan menjadi terang, sedangkan sisi lain yang tidak mengarah ke matahari akan mengalami kegelapan.

Demikian pula dengan kesempurnaan kebaikan Allah: Allah adalah kebaikan yang sempurna, dan sumber dari segala kebaikan. Tidak ada bayang-bayang kejahatan pada diri Allah. Allah tidak punya niat jahat. Ketika Allah mengijinkan orang-orang benar mengalami musibah, semua itu diijinkan terjadi demi kebaikan orang-orang yang mengasihi-Nya (Rom 8:28).

Sedangkan manusia tidak memiliki kebaikan pada dirinya sendiri. Manusia baru dikatakan baik bila ia mengarahkan hidupnya kepada Allah dan menyesuaikan sifat-sifatnya dengan sifat-sifat Allah. Jika manusia tidak mengarahkan hidupnya kepada Allah, maka apapun yang diperbuat manusia, ia berada di dalam kegelapan dosa.

F. ADIL
Definisi umum dari keadilan adalah memberikan apa yang sepatutnya. Definisi keadilan menurut Alkitab adalah sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran, yaitu melakukan apa yang benar. Pada saat Allah bertindak adil, maka itu berarti Ia melakukan apa yang benar (Kej 18:25; Rom 9:14).

Dua hal yang berada di luar kategori keadilan, yaitu ketidakadilan dan anugerah. Di bawah ini adalah persamaan dan perbedaan antara ketidakadilan dan anugerah:

  • Ketidakadilan berada di luar kategori keadilan dan merupakan pelanggaran terhadap keadilan. Contoh: Memberi hukuman yang lebih ringan atau lebih berat dari pada yang seharusnya. Memberi upah kurang dari pada yang seharusnya.

  • Anugerah adalah pemberian cuma-cuma dari Allah kepada manusia yang tidak layak menerimanya. Anugerah juga merupakan hal yang berada diluar kategori keadilan, tetapi tidak melanggar keadilan. Contoh: Menanggung hukuman bagi orang lain serta mengampuni orang yang bersalah. Melunasi hutang orang lain. Memberi upah lebih banyak dari pada yang dijanjikan.

Allah yang adil sudah sepatutnya menghukum manusia yang berdosa. Sebab upah dosa adalah maut (Rom 6:23). Tetapi Allah juga berhak memberikan anugerah keselamatan kepada orang-orang tertentu. Sebab Ia adalah Allah yang berdaulat. Seperti yang dikatakan-Nya kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati" (Rom 9:15). Manusia tidak berhak menuntut anugerah keselamatan dari Allah. Itu adalah hak prerogatif Allah.


III. KARYA ALLAH

A. PENCIPTAAN
Penciptaan adalah karya Allah Tritunggal. Dalam karya itu Ia memberi keberadaan pada segala yang ada, yang sebelumnya tidak ada, baik materi maupun spiritual. Allah menciptakan alam semesta dari yang tidak ada (ex nihilo) menjadi ada oleh kekuasaan firman-Nya (Kejadian 1). Ia tidak mencipta dari bahan materi yang telah tersedia melainkan mencipta dari kekosongan. Segala materi baru ada setelah diciptakan oleh Allah (Yohanes 1:3). Segalanya dicipta oleh Allah selama enam hari.

B. PEMELIHARAAN
Setelah menciptakan alam semesta, kemudian Allah memelihara semua makhluk-Nya, bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi di dunia dan mengarahkan segala hal kepada tujuan yang ditetapkan-Nya (Rom 8:28). Pemeliharaan menyatakan bahwa Allah senantiasa mempertahankan, memperbaharui dan mengatur ciptaan-Nya. Ajaran ini digambarkan dalam kisah Yusuf, yang diculik dan dibuang ke Mesir: pada kemudian hari peristiwa itu dilihat sebagai pemeliharaan Allah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang dilanda kelaparan (Kej 45:1-34).

Pemeliharaan Allah meliputi seluruh alam semesta dan Allah bekerja dalam segala sesuatu (Mazm 115:3; Mat 10:30; Ef 1:11). Gejala-gejala alam seperti angin dan hujan, bahkan yang kelihatan sebagai musibah (Luk 13:1-5), diatur oleh Dia. Kejahatan sekalipun ada di bawah kuasa-Nya dan digunakan untuk rencana-Nya (Kej 50:20; Kis 2:23; Fil 1:17-18).

C. PENEBUSAN
Sekalipun manusia telah jatuh ke dalam dosa, namun Allah tetap menyatakan kemurahan-Nya. Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).  [vb]


OTORITAS ALKITAB

I. OTORITAS ALKITAB

Otoritas Alkitab berarti bahwa Alkitab memiliki wewenang atau kekuasaan hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Alkitab memiliki otoritas tertinggi yang melebihi segala otoritas yang ada. Di dunia ini ada banyak hukum, peraturan atau wewenang yang dibuat oleh manusia. Namun semuanya itu harus tunduk di bawah Alkitab yang memiliki otoritas tertinggi. Segala aspek kehidupan kita harus tunduk dan diarahkan oleh prinsip-prinsip Alkitab yang adalah hukum Allah. Mulai dari masalah politik, hukum, sosial, budaya, teknologi, pendidikan, militer, medis, dan sebagainya, tidak luput dari penghakiman Alkitab. Karena Allah yang menciptakan segala sesuatu dan yang berkuasa atas segala sesuatu, maka segala sesuatu harus tunduk di bawah otoritas firman-Nya.


II. ALKITAB ADALAH FIRMAN ALLAH

Di dalam 2 Timotius 3:16 dikatakan bahwa Alkitab diilhamkan (diinspirasikan, dinafaskan, difirmankan) oleh Allah. Setiap kata yang ada di dalamnya merupakan firman Allah. Tidak ada satu bagian Alkitab pun yang tidak diilhamkan oleh-Nya.

Ada tiga jaminan penting mengenai Alkitab:
• Alkitab itu tidak mungkin salah. Karena Alkitab diilhamkan oleh Allah maka segala sesuatu yang dinyatakan oleh Alkitab adalah benar.
• Alkitab itu jelas. Alkitab telah ditulis dengan cara sedemikian rupa, hingga orang awam pun mampu memahaminya.
• Alkitab itu cukup. Artinya kita tidak memerlukan sesuatu yang lain di luar Alkitab untuk dapat mengetahui apa yang perlu kita ketahui (tentang Allah, jalan keselamatan-Nya, serta tugas & tanggung jawab yang Allah tuntut kepada manusia. Bandingkan dengan pernyataan Agustius: Hanya ada 2 hal yang ingin aku ketahui di dalam dunia ini: tentang Allah dan tentang diriku). Kata "cukup" juga berarti tidak mungkin ada wahyu baru.

Alkitab terdiri dari 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Keseluruhannya telah lengkap dan cukup. Karena karena Alkitab telah lengkap dan cukup, maka tidak ada lagi dan tidak dibutuhkan lagi wahyu baru.


Memang ada banyak hal yang tidak kita pelajari dari Alkitab, misalnya:
• Sejarah lengkap peradaban manusia.
• Informasi-informasi teknis ilmiah
• Keberadaan Tuhan Yesus pada masa kanak-kanak, remaja, pendidikan, kehidupan rumah tangga, ataupun penampilan fisik-Nya

Alkitab memang tidak diberikan untuk menceritakan tentang segala sesuatu. Alkitab diberikan untuk mengajarkan "apa yang harus dipercayai manusia mengenai keberadaan Allah, serta tugas apa yang dituntut Allah dari manusia.”

Namun, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa Alkitab benar-benar memiliki sesuatu untuk dikatakan berkaitan dengan segala sesuatu. Ada sesuatu yang sangat penting yang hendak disampaikan oleh Alkitab, sehingga tanpanya kita tidak dapat memiliki pemahaman yang sejati atas segala sesuatu.


III. BEBERAPA KEUNIKAN ALKITAB

1. Ditulis oleh kurang lebih 40 orang penulis yang mana banyak diantara mereka tidak saling kenal dalam jaman yang berbeda (dalam kurun waktu 2000 tahun). Namun secara keseluruhannya merupakan satu kesatuan, yakni "sejarah keselamatan".
➢ Sejarah keselamatan:
- Penciptaan
- kejatuhan manusia ke dalam dosa
- Masa penantian kedatangan juruselamat
- Kedatangan Juruselamat
- Masa pemberitaan Injil keselamatan
- Akhir jaman

2. Seluruh nubuat mengenai Kristus dan gereja (kurang lebih 300 nubuat) yang tergenapi.
3. Menceritakan asal mula dunia & akhir kesudahannya.
4. Bukti-bukti arkeologis yang menguatkan kebenaran Alkitab
5. Terjadi transformasi yang hebat dalam masyarakat dan bangsa-bangsa yang sungguh-sungguh menerapkan kebenaran Firman Tuhan di dalam kehidupan mereka. [vb]

WAHYU

I. ARTI WAHYU

Wahyu (dalam bahasa Inggris: revelation) memiliki arti: penyataan, penyingkapan, membuka selubung dari hal yang tersembunyi, supaya dapat dilihat dan diketahui apa sebenarnya hal itu. Pe-wahyu-an berarti Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia sehingga manusia dapat mengenal-Nya.


II. MENGAPA ALLAH MEMBERIKAN WAHYUNYA?

• Karena Allah berkenan untuk dikenal oleh manusia. Allah berinisiatif memperkenalkan diri-Nya (Ibrani 1:1-2). Manusia mengetahui tentang Allah karena Dia berkenan merendahkan diri untuk berkomunikasi dengan kita. Seperti orang dewasa yang berbicara dengan anak kecil, Allah menyesuaikan bahasa dan ungkapan-Nya dengan kemampuan kita. John Calvin berkata, ”Seperti pengasuh terhadap bayi, Allah berbicara kepada kita.”
• Manusia memerlukan penyataan diri Allah jika ia ingin memperoleh pengetahuan secukupnya mengenai Dia. Tanpa wahyu Allah maka manusia tidak dapat mengenal Allah & rencana-Nya. Segala spekulasi manusia tentang Allah akan sia-sia belaka.


III. BAGAIMANAKAH CARA ALLAH MENYATAKAN DIRINYA?
Allah menyatakan dirinya melalui dua cara: wahyu umum dan wahyu Khusus.

A. Wahyu Umum
• Arti dari wahyu umum adalah: penyataan Allah kepada semua orang di mana-mana (Mat 5:45)
• Wahyu umum hanya menyatakan sifat Allah yang umum (Rom 1:19-20)
• Dua sarana wahya umum:
- Alam semesta (Rom 1:19-20). Melalui alam semesta manusia dapat melihat hukum Allah yang mengatur alam dan segala kehidupan yang ada di dalamnya.
- Hati nurani (Rom 2:14-15). Di dalam hati tertanam hukum yang mengatur perilaku moral, sehingga setiap manusia memiliki kesadaran akan yang baik dan yang jahat.

Catatan: Wahyu umum memiliki suatu kekurangan, yaitu masih belum cukup untuk memberikan pengetahuan tentang Allah dan kehendak-Nya, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan. Untuk membimbing manusia ke dalam keselamatan Allah menyatakan diri-Nya melalui wahyu khusus.

B. Wahyu Khusus
• Yang dimaksudkan dengan wahyu khusus ialah cara-cara Allah menyatakan diri dengan lengkap dan jelas yang jauh melebihi wahyu umum. Wahyu khusus menyatakan sifat diri Allah yang khusus, jalan keselamatan, serta rencana kekal Allah. (Yoh 14:6). Penyataan itu berpusat pada penjelmaan Allah menjadi manusia (Yesus Kristus), dan diketahui melalui kata-kata Alkitab yang diilhami Allah.
• Wahyu khusus diberikan melalui dua cara:

o Penyataan diri Allah melalui para nabi (Allah berbicara secara langsung, atau melalui mimpi, penglihatan, ataupun dengan cara memberikan inspirasi kepada para penulis Alkitab).
o Penyataan diri Allah melalui Yesus Kristus.

• Wahyu khusus ditujukan kepada orang-orang khusus, yakni umat pilihan Allah yang termasuk di dalam rencana keselamatan Allah. Wahyu khusus dapat jatuh ke dalam tangan orang-orang yang bukan umat pilihan Allah. Tetapi tidak semua orang dapat memahami atau menerapkan inti berita utama dari wahyu khusus. Untuk dapat memahaminya pesan utamanya dibutuhkan pertolongan khusus dari Roh Kudus yang memberikan pencerahan dan pengertian (Kis 16:14). Roh Kudus adalah kunci untuk dapat memahami dan menerapkan wahyu khusus. Tidak semua orang memiliki kunci ini.

Kini wahyu khusus telah lengkap, dan dituliskan di dalam Alkitab (39 Kitab Perjanjian Lama, 27 Kitab Perjanjian Baru), dan kini sudah tidak ada lagi wahyu baru. [vb]



PENGANTAR TEOLOGI

I. APAKAH TEOLOGI ITU?

A. Pengertian teologi secara umum:
• Ilmu yang mempelajari tentang Allah

(Catatan: Definisi ini mempunyai suatu kelemahan, yaitu memiliki kesan telah mempersamakan Allah dengan objek-objek pengetahuan lainnya yang dapat dipelajari dengan suatu penyelidikan. Allah dianggap sebagai objek yang dapat dikuasai oleh pikiran manusia yang terbatas.)

B. Pengertian teologi secara khusus:
• Ilmu yang mempelajari tentang Allah,
• Yang mana ilmu tersebut bersumber dari Firman Allah sendiri (Baca Ibr 1:1-2)
• Dan untuk dapat memahami serta menerapkannya dibutuhkan pertolongan dari Roh Allah sebagai Guru yang memberikan pencerahan, bimbingan dan pengarahan. (Baca Yoh 16:13).

Singkatnya: teologi adalah mengenal Allah melalui Firman-Nya dan dengan pertolongan Roh Kudus-Nya.

Dari definisi ini berlaku prinsip “Dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).

➢ Dari Allah: Pengetahuan atau pengenalan kita terhadap Allah datang dari firman-Nya.
➢ Oleh Allah: Firman yang telah kita terima akhirnya dapat dipahami karena pikiran kita telah diberi pencerahan oleh Roh Kudus-Nya.
➢ Kepada Allah: Pengenalan akan Allah ini mendorong kita untuk mempersembahkan seluruh hidup kita kepada Allah.

(Catatan: Definisi ini dimulai dari suatu kesadaran bahwa Allah adalah suatu Pribadi yang hidup, yang kekuasaan-Nya tidak terbatas, dan yang berdaulat. Maka dari itu teologi tidak dapat diartikan sebagai suatu usaha manusia untuk mengetahui suatu objek yang rendah derajatnya, melainkan sebagai suatu perkenalan manusia dengan suatu pribadi yang agung dan mulia; bagaikan seorang hamba yang berkenalan dengan seorang raja. Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Yesaya 55:6)


II. MENGAPAKAH KITA HARUS BELAJAR TEOLOGI?
Setiap manusia harus belajar teologi karena manusia harus menganal Penciptanya!
“Ingatlah akan Penciptamu...” (Pengkhotbah 12:1)
“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6)


III. BAGAIMANAKAH SEHARUSNYA SIKAP KITA DALAM MEMPELAJARI TEOLOGI?
Belajar teologi haruslah dimulai dengan sikap rendah hati. Sebab dalam berteologi kita berkenalan dengan Allah yang hidup, yang maha ada, maha tahu dan memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. Dia bukanlah benda mati yang dapat di jadikan objek pengetahuan manusia. Justru manusialah yang menjadi objek pengetahuan Allah. Pada saat kita mempelajari Allah, pada saat yang sama Allah sedang mengamati hati dan pikiran kita. Maka dari itu, dalam mempelajari Teologi haruslah didahului dengan sikap rendah hati. Pengertian dari sikap rendah hati di sini adalah:

A. Setia berpegang teguh kepada Firman-Nya. Hanya Allah yang tahu tentang diri-Nya sendiri. Karena itu, untuk dapat memiliki pengenalan akan Allah kita harus mengandalkan penyataan dari Allah sendiri. Firman-Nya adalah nara sumber satu-satunya yang membawa kita kepada pengenalan yang benar tentang Allah.

B. Tidak bersandar pada pengertian sendiri. Manusia tidak dapat mengarang-ngarang kebenaran tentang Allah. Pikiran manusia bukanlah alat untuk mencipta atau pencetak kebenaran, melainkan sebagai alat penerima kebenaran. Pikiran manusia tidak dapat merekayasa kebenaran. Kebenaran bersumber dari Allah sendiri. Agar dapat memiliki kebenaran tentang Allah maka pikiran manusia harus diisi dengan kebenaran yang bersumber dari firman Allah, dan bukan dengan mengarang-ngarang kebenaran tentang Allah.
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Amsal 3:5).

C. Bertujuan untuk memuliakan Allah. Pengenalannya akan Allah bukan untuk menyombongkan diri. Sebab tujuan Allah menyatakan diri-Nya kepada kita adalah supaya kita dapat mengembalikan kemuliaan kepada Dia yang pantas untuk dimuliakan. [vb]