Thursday, March 12, 2009

PEMBUKTIAN KEBERADAAN AIR BAH SEBAGAI BANJIR GLOBAL



“Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah.” (2 Petrus 3:5-6)

I. TIGA MACAM PANDANGAN MENGENAI KEBERADAAN AIR BAH:
  1. Air bah sebagai banjir lokal.
  2. Air bah sebagai banjir global.
  3. Kisah air bah hanyalah sebuah mitos.


II. PEMBUKTIAN KEBERADAAN AIR BAH SEBAGAI BANJIR GLOBAL BERDASARKAN ALKITAB

1. Terminologi
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Lama untuk menerangkan peristiwa ini air bah ialah mabbul. Di luar cerita dalam Kejadian 6-11 kata ini hanya terdapat dalam Mazmur 29:10, dan kata itu harus diterima artinya sebagai air meluap secara besar-besaran, seperti yang dibicarakan dalam Kejadian. Dalam LXX istilah mabbul diterjemahkan kataklysmos, dan kata ini dipakai juga dalam Perjanjian Baru untuk menerangkan kejadian yang sama (Mat 24:38-39; Luk 17:27; 2 Pet 2:5)

2. Ketinggian Air (Kej 7:19)
Bagaimana mungkin banjir yang begitu tinggi yang menutupi puncak gunung dapat disebut sebagai banjir lokal? Dapatkah air tegak berdiri di suatu tempat hingga menutupi puncak gunung, dan dapat tidak mengalir ke tempat yang lain?

3. Lamanya Banjir (Kej 7:24).
Tidak pernah terjadi bahwa banjir lokal yang begitu dahsyat dapat menggenangi suatu kawasan dalam waktu yang begitu lama, kecuali genangan air dalam skala kecil seperti danau. Jikalau yang terjadi adalah banjir dalam skala kecil, maka sebuah bahtera yang besar tidak diperlukan untuk menyelamatkan binatang-binatang dari kepunahan. Cukuplah dengan cara mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, maka semuanya akan selamat.

4. Ukuran Bahtera (Kej 6:15)
Diperkirakan ukuran bahtera tersebut adalah 137 m X 23 m X 14 m (minimum) atau 183 m X 31 m X 18 m (maximum). Bahtera yang sangat besar ini sama sekali tidaklah diperlukan jika sekiranya air bah itu hanya bersifat lokal. Nuh memerlukan bahtera itu seakan-akan itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kehidupan dalam suatu malapetaka yang menimpa seluruh bumi.

5. Jarak Antara Tempat Semula Dengan Tempat Bahtera Terdampar
Bahtera Nuh terdampar di gunung Ararat berjarak 800 kilometer dari posisi semula. Posisi semula adalah disekitar taman Eden (antara sungai Efrat dan Tigris). Suatu jarak yang terlalu luas untuk ukuran banjir lokal. Jarak ini lebih jauh dari jarak dari Jakarta ke Surabaya. Sebuah kapal yang sangat besar melintasi daratan yang sangat luas hanya dapat terjadi apabila banjir yang maha dahsyat yang telah menutupi seluruh puncak-puncak gunung (dan juga berarti telah menutupi seluruh permukaan bumi). Jikalau yang terjadi adalah banjir lokal, sudah pasti bahtera Nuh sudah kandas di tengah perjalanan.

6. Burung Merpati (Kejadian 8:8-9).
Burung merpati dapat terbang menepuh jarak 1000 km dan memiliki kemampuan navigasi yang sangan baik. Bila dilepas di suatu tempat burung tersebut secara naluri selalu terbang menuju ke tempat asalnya. Ketika Nuh melepas burung merpati, burung tersebut segera terbang menjelajah sekitar 800 km menuju ketempat asal mulanya. Namun burung ini kembali lagi dan karena tidak ada tempat untuknya bertengger pada areal yang sangat luas. Dari bagian ini dapat disimpulkan bahwa banjir telah melanda kawasan yang sangat luas.

7. Perjanjian (Kej 9:11)
Jikalau yang dimaksudkan dari perjanjian ini adalah Allah tidak akan lagi memberikan banjir lokal, tentunya hal ini bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di dalam sejarah selanjutnya. Banjir lokal yang banyak memakan korban jiwa kerap terjadi di sepanjang sejarah.


III. BUKTI-BUKTI EKSTERNAL

1. Ladang Timbunan Fosil
Pada setiap daratan terdapat banyak ladang timbunan fosil. Fosil hanya terjadi apabila suatu makhluk hidup segera terkubur sebelum terjadinya pembusukan. Banyak dari fosil menunjukkan melalui bagian lembut dan berdagingnya bahwa mereka dikuburkan sebelum membusuk. Hal ini, bersamaan dengan munculnya fosil polistrata (fosil yang menembus dua atau lebih strata batuan sedimen) pada formasi Carboniferous, Mesozoic dan Cenozoic, merupakan bukti pasti bahwa materi ini telah terurai dalam waktu yang cukup cepat, bukan dalam ratusan juta tahun.

Adanya ladang timbunan fosil di seluruh dunia menunjukkan bahwa telah terjadi suatu malapetaka pada taraf yang meliputi seluruh dunia. Telah terjadi kematian dan penguburan yang cepat dari kehidupan hewan dan tumbuhan oleh suatu banjir.

Jutaan fosil ikan di pegunungan Alpen. Fosil ikan paus dan reptil di pegunungan Rockies di Kanada. Puluhan ribu fosil gajah di Siberia (Siberia berada di dekat Kutub Utara). Fosil kuda nil di dasar lapisan sungai di Sisilia. Tumpukan fosil kuda di Perancis dan di bagian lainnya di Eropa. Dan temuan fosil-fosil di berbagai kawasan dunia.

2. Terbentuknya Batu-batuan Sedimen
Batu-batuan sedimen adalah batu-batuan yang terbentuk oleh hanyutan air (endapan lumpur). Jenis batu-batuan yang terdapat di kulit bumi: Batu-batuan sedimenter 75 %, batu-batuan vulkanis 25 %. Batu-batuan sedimen telah menutupi sebagian besar kulit bumi, mulai dari puncak-puncak gunung yang tinggi sampai ke jurang-jurang yang dalam. Itu berarti seluruh permukaan bumi pernah digenangi oleh air dan lumpur yang tebal. Selain itu, hampir 100 % fosil yang telah ditemukan berasal dari lapisan batu sedimen. Ini menunjukkan bahwa fosil terbentuk pada saat terjadinya air bah.

3. Bukti Sejarah
  • Ilmu arkeologi memberi petunjuk bahwa pesisir pantai bagian timur Laut Tengah (tempat Nuh bermukim) merupakan tempat awal kelahiran peradaban, tempat asal mulanya perlangsung perpindahan umat manusia, serta sumber asalnya berbagai macam bahasa.
  • Tanggal termuda yang pernah dibuktikan dari sejarah peradaban yang belum terungkap sekitar 2500 tahun Sebelum Masehi.
  • Tahun tersebut adalah sekitar waktu terjadinya malapetaka air bah! Tanaman tertua yang masih hidup sampai saat ini adalah pohon pinus (Bristlecone) yang terdapat di California dan Nevada di perkirakan umurnya 4000 dan 4900 tahun, sama tuanya dengan peristiwa air bah itu.
  • Hampir setiap kebudayaan di bumi memiliki legenda tentang suatu air bah yang traumatis, di mana hanya beberapa orang yang selamat dalam suatu kapal besar.

4. Statistik Pertumbuhan Penduduk
Penganut teori evolusi mengatakan bahwa manusia telah hidup sejak 1 juta tahun yang lalu. Seandainya teori ini benar, tentulah seluruh permukaan bumi telah dipadati oleh manusia. Namun kenyataannya dari jumlah manusia yang hidup pada jaman ini tidak mendukung teori tersebut.

5. Punahnya Dinosaurus
Penganut teori evolusi beranggapan bahwa dinosaurus tidak hidup sejaman dengan manusia. Mereka berpendapat bahwa donosaurus hidup antara 65 juta sampai 200 juta tahun sebelum adanya manusia. Namun beberapa temuan telah membuktikan bahwa dinosaurus dan manusia pernah hidup sejaman:
  • Telah ditemukan ukiran pahat berbentuk binatang “archaeornis” dan “archaeopteryx” (sejenis donosaurus) yang dibuat oleh bangsa Maya kuno. Binatang ini dianggap oleh penganut evolusi telah punah 130 juta tahun yang lalu.
  • Lukisan-lukisan tentang binatang dinosaurus dari berbagai ragam jenis teolah digambarkan oleh manusia di dalam gua-gua dan dinding-dinding ngarai. Hal ini membuktikan bahwa manusia pernah hidup sejaman dengan dinosaurus. Untuk melukiskannya sudah tentu harus melihatnya.
  • Ditemukan jejak kaki manusia bersamaan dengan jejak kaki dinosaurus pada lapisan tanah yang sama di sekitar sungai Paluxy, Texas.

6. Batubara
Batubara adalah sejumlah besar timbunan tumbuh-tumbuhan yang telah membatu dan mengalami karbonisasi. Proses terjadinya batubara tidak memerlukan waktu sampai berjuta-juta tahun seperti yang diungkapkan oleh penganut teori evolusi. Ia dapat terbentuk dalam waktu yang cukup singkat melalui tekanan beban yang sangat besar. Beberapa temuan batubara yang menandai adanya air bah:
  • Ditemukan bongkahan batubara yang didalamnya terdapat binatang-binatang laut yang menunjukkan bahwa pernah terjadi malapetaka besar berupa air bah.
  • Ditemukan batubara yang terdiri dari campuran berbagai jenis kayu dalam kondisi campur aduk (kacau balau).
  • Ditemukan batubara yang berasal dari kayu pinus (bukan tumbuhan rawa seperti pada umumnya), dan dalam posisi bertumpuk-tumpuk.
  • Tumpukan kayu yang kacau balau yang bercampur dengan berbagai jenis binatang hanya dimungkinkan oleh adanya malapetaka besar berupa air bah. Dan dengan ketinggian air yang mencapai setinggi gunung telah memberi tekanan beban yang sangat besar, sehingga kayu mengalami karbonisasi dan berubah menjadi batubara.

7. Minyak Bumi
Minyak bumi merupakan sisa-sisa yang telah berubah bentuk dari dari binatang-binatang laut yang terperangkap dan terkubur, sebagian besar terdiri dari bagian lembut dan binatang-binatang tidak bertulang belakang. Kehadiran minyak bumi menuntut adanya suatu timbunan yang disebabkan oleh malapetaka, bencana dahsyat besar-besaran dari samudra untuk membinasakan sejumlah besar organisme binatang laut. Terbentuknya minyak bumi bukanlah persoalan waktu, akan tetapi menyangkut persoalan tekanan dan suhu. Adanya kandungan minyak bumi di setiap daratan benua dan setiap samudra menjadi bukti yang kuat bahwa pernah terjadi banjir global yang melanda seluruh permukaan bumi.

8. Kuburan-kuburan Gua
Di temukan dibeberapa tempat gua-gua yang berisi berbagai kerangka binatang serba aneh yang campur-baur secara tidak normal yang sebenarnya tidak pernah hidup bersama. Nampaknya binatang-binatang tersebut telah berjuang mendaki gunung, pencari tempat pengungsian dari banjir yang dahsyat dan hujan yang lebat. Setelah menemukan tempat perlindungan di dalam gua, yang terjadi malah mengalami nasib yang malang, yaitu terbenam dan terkubur di gua itu secara bersama-sama. Gua-gua semacam itu terdapat di Prancis, Siprus, Malta, Sisilia, Indonesia, Australia, Amerika Utara dan Selatan, Inggris, dll.



IV. SUMBER AIR
(2 Petrus 3:5-6)


Ada suatu hubungan simetri antara kisah penciptaan (Kej 1) dengan kisah air bah: Pada mulanya bumi berasal dari air, dan kemudian dibinasakan oleh air.

Awal mulanya bumi di tutupi oleh air, kemudian Allah memisahkan air yang di atas dengan air yang di bawah. Air yang dibawah dipisahkan dengan daratan. Kemudian Allah memunculkan kehidupan yang baik di bumi. Namun suatu saat kehidupan di bumi dipenuhi oleh kejahatan. Allah membinasakan kehidupan dibumi dengan cara menggabungkan darat dan laut serta mencurahkan air dari langit. Akhirnya bumi kembali ditutupi oleh air. Kesimpulannya, kalau pada awalnya dunia pernah ditutupi oleh air, maka tidaklah mustahil bila suatu hari air yang sama sekali lagi menutupi dunia yang sama.

Sebagian besar dari gunung-gunung di bumi terbentuk setelah hampir semua sedimen terdeposit. Jika gunung-gunung ini diratakan kembali (dan kantung-kantung lautan akan naik sebagai kompensasi dari turunnya sejumlah besar massa ini), maka lautan akan membanjiri seluruh bumi. Karena itu, terdapat cukup banyak air di bumi untuk melingkupi gunung-gunung kecil yang telah ada sebelum banjir itu terjadi.


V. AIR DI ATAS CAKRAWALA
(Kej 1:6-7; 7:11-12)


Cakrawala yang disebutkan pada bagian ini tidak dapat disamakan dengan cakrawalan yang ada pada jaman sekarang ini. Cakrawala pada masa itu merupakan tabir air atau semacam lapisan uap air yang sangat tebal. Adanya tabir air yang sangat tebal ini mengakibatkan iklim bumi pada masa itu jauh berbeda dengan iklim bumi pada masa sekarang ini. Tabir air tersebut melindungi bumi terhadap terpaan sinar matahari secara langsung, sekaligus merambatkan (membelokkan) sinar matahari ke permukaan lainnya di bumi, seperti kutub utara dan kutub selatan. Penangkalan dan perambatan sinar ini mengakibatkan daerah katulistiwa menjadi tidak terlalu panas dan daerah kutub tidak terlalu dingin.
Di kalangan ilmuwan ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa pada jaman purba kala bumi ini pernah mengalami iklim global. Tidak ada perbedaan iklim di tempat yang satu dengan tempat yang lainnya. Suhu rata-rata pada masa itu sekitar 22oC. Seluruh tempat di muka bumi merupakan tempat yang ideal bagi kehidupan semuah makhluk. Beberapa temuan di bawah ini membuktikan keberadaan iklim global di muka bumi:

  1. Adanya spora di lapisan es kutub utara. Suatu tim ekspedisi ke kutub utara di dalam pengeborannya de dalam lapisan es terdalam telah menemukan beberapa jenis spora. Mereka berpendapat bahwa pada jaman dahulu kutub utara adalah daerah yang hijau.
  2. Ditemukan bongkahan batu bara di kutub utara. Batu bara adalah tumbuh-tubuhan yang mengalami proses karbonisasi.
  3. Jutaan fosil gajah mammoth di daerah Siberia.
  4. Ditemukan bangkai gajah mammoth di dalam bongkahan es dalam keadaan utuh (masih memiliki kulit dan bulu)

Kondisi alam yang ideal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh firman Tuhan yang mengatakan “semua itu baik” (Kejadian). Namun berkat Allah pada suatu saat dapat berubah menjadi kutuk. Tabir air yang pada masa itu melindungi bumi dari terpaan sinar matahari pada suatu saat telah menjadi sumber malapetaka besar. Karena keberdosaan manusia maka Allah menurunkan tabir air yang menjadi sumber air bah. Lapisan air yang begitu tebalnya diturunkan sekaligus selama 40 hari berturut-turut. Air yang pada awal penciptaan pernah menutupi seluruh permukaan bumi akhirnya kembali menutupi seluruh permukaan bumi. [VB]

http://victormordechai.blogspot.com/

1 comment: